WHAT`S UP

Pelaut Indonesia Kuno, Vikingnya Afrika

tennis1

Pelaut Indonesia telah  datang ke Afrika dan Madagaskar jauh sebelum orang Eropa

Photo: relief pelaut

LAKBAN –  Kamu mungkin pernah melihat foto panel di candi Borobudur yang menggambarkan kapal atau perahu. Berdasarkan relief itu, pernah dilakukan ekspedisi Borobudur. Sebuah kapal didesain sebagai bentuk rekonstruksi relief itu. Dan ekpedisi pun dilakukan hingga melintasi Samudera. Menuju Madagaskar.

Setelah itu disusul dengan sebuah publikasi penelitian yang sangat menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Robert Dick menyimpulkan bahwa  pelaut Indonesia telah  datang ke Afrika dan Madagaskar jauh sebelum orang Eropa tahu apa pun tentang Afrika.  Jejak peninggalan pelaut kuno yang datang dari kepulauan yang saat ini bernama Indonesia telah membuktikan bahwa nenek moyang Nusantara telah merajai lautan sejak berabad lampau.

Jauh sebelum Arab dan Shirazis berlayar menyusuri pantai Afrika untuk menemukan kota-kota eksotis seperti Kilwa, Lamu dan Zanzibar. Para pelaut Indonesia sudah tiba di Madagaskar. Berabad-abad kemudian barulah muncul Kerajaan Sriwijaya yang menjadi ikon penguasa lautan. Kekuatan armada Sriwijaya menunjukkan kelasnya sebagai penguasa maritim.   

Kembali ke para pelaut kuno  tadi. Kita tidak tahu dengan pasti siapa orang Indonesia ini, dari mana mereka berasal, atau bahkan mengapa mereka datang.  Bagai hantu. Itulah mengapa Dick memberi judul The Phantom Voyagers pada buku yang ditulis berdasarkan penelitiannya. Mereka memang tidak meninggalkan catatan tertulis. Namun warisan Indonesia di daratan Afrika jauh lebih besar daripada yang diakui secara umum.

Jejak kaki dan sidik jari pelayar hantu atau pelayar tak dikenal  itu sangat banyak. Mustahil menemukan benag merah sejarah Inggris tanpa menyebut peran bangsa Viking. Dan Pelayar Indonesia, dalam arti tertentu adalah Viking Afrika.

Sebuah tim yang dipimpin oleh ahli biologi molekuler Murray Cox dari Universitas Massey Selandia Baru menyelidiki DNA untuk mencari petunjuk untuk menjelaskan teka-teki migrasi. Mereka mencari penanda yang diturunkan di kromosom melalui garis ibu, dalam sampel DNA yang ditawarkan oleh 266 orang dari tiga kelompok etnis Malagasi.

Dua puluh dua persen dari sampel memiliki varian lokal dari motif Polinesia.   Karakteristik genetik kecil yang ditemukan di antara Polinesia, tetapi jarang begitu di Indonesia barat. Dalam satu kelompok etnis Malagasi, satu dari dua sampel memiliki penanda ini. Jika sampelnya benar, sekitar 30 perempuan Indonesia mendirikan populasi Malagasi dengan sumbangan biologis yang jauh lebih kecil, tetapi sama pentingnya dengan pengaruh dari  Afrika.

Investigasi menunjukkan kontribusi lain dari Asia Tenggara. Secara linguistik, penduduk Madascagar berbicara dengan dialek bahasa yang menelusuri asal-usulnya ke Indonesia. Sebagian besar leksikon berasal dari Ma'anyan, bahasa yang digunakan di sepanjang lembah Sungai Barito di Kalimantan tenggara - daerah pedalaman yang terpencil - dengan kata-kata yang sangat sedikit dari Jawa, Melayu atau Sansekerta

Mereka membawa serta tanaman-tanaman baru yang penting, musik, seni, teknologi, penyakit, metode ramalan, dan aspek-aspek budaya lainnya yang langgeng yang kemudian diserap ke dalam cara hidup orang Afrika. Penyebaran perahu bercadik dari kepulauan Polinesia hingga ke Madagaskar juga menunjukkan luasnya laut penjelajahan nenek moyang kita di masa tersebut.

Tanpa pengaruh dan peran orang Indonesia di zaman kuno, Afrika sub-Sahara akan menjadi tempat yang sangat berbeda hari ini. Kita mungkin tidak akan akan memiliki ikon Afrika yang luar biasa seperti The Great Zimbabwe, atau perunggu terkenal di Benin, atau apakah Zanzibar dan Tanzania akan dinamai demikian.

Pengaruh orang Indonesia di Afrika adalah subjek yang secara akademis dihindari, dan dengan demikian para peneliti cenderung skeptis. Selama ini, kisah-kisah itu hanya menjadi semacam legenda. Banyak pandangan yang diungkapkan dalam The Phantom Voyagers  keluar dari pakem sejarah Afrika yang sudah mapan.  Namun dalam berbagai diskusi tentang buku The Phantom Voyagers, beberapa sejawaran yang memiliki wewenang ilmiah memadai mengapresiasi karya ini.