Belajar dari Perjalanan Hidup Elon Musk (Bagian 1)

Belajar dari Perjalanan Hidup Elon Musk (Bagian 1)
(c) teslarati

LAKBAN-  Kalau di Indonesia ada pebisnis sekelas Erick Thohir, di Amerika ada Elon Musk. Dialah tokoh bisnis, penemu, dan industrialis Amerika Serikat. Ia merupakan pendiri dan CEO SpaceX, perusahaan transportasi antariksa Amerika Serikat (AS), yang berencana meluncurkan roket terbesarnya, Falcon Heavy.

Sang pendiri perusahaan, Elon Musk, mengklaim bahwa daya dorong roket ini setara dengan 18 pesawat Boeing 747 berkecepatan penuh. Luar biasa ya?

Tak hanya SpaceX, Musk juga diketahui sebagai si jenius di belakang sejumlah perusahaan ternama berbasis teknologi, sebut saja Tesla, PayPal, dan SolarCity. Tesla adalah pelopor mobil listrik Amerika yang sudah membuktikan diri sebagai pendobrak. PayPal menjadi yang perusahaan pembayaran terdepan.

Musk memang memiliki ambisi tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia bersikukuh akan membangun koloni manusia di planet Mars, tak peduli apa kata orang.

Dengan estimasi nilai kekayaan sebesar US$20,8 miliar, Elon menempati peringkat ke-21 orang terkaya di AS dalam daftar Forbes 400 2017. Pada Desember 2016, Forbes menobatkannya sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia.

Jika kamu penggemar film The Avengers, kamu mungkin akan melihat Elon sebagai Tony Stark di dunia nyata. Pintar, berambisi, kaya, inovatif, dan pastinya sukses di mana-mana. Seperti halnya sejumlah tokoh inspiratif lainnya, pebisnis yang banyak dielu-elukan ini ternyata memiliki masa lalu yang tak semulus dugaan.

Lahir pada tanggal 28 Juni 1971 di Pretoria, Afrika Selatan, pria bernama lengkap Elon Reeve Musk ini adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Errol Musk dan Maye Musk. Dilansir dari berbagai sumber, setelah kedua orang tuanya bercerai pada tahun 1980, Elon memutuskan tinggal bersama ayahnya.

Saat-saat tinggal bersama ayahnya di kemudian hari digambarkan oleh Elon beserta adik lelakinya, Kimbal, sebagai masa yang sulit. Errol dikabarkan bersifat keras dan kerap menceramahi kedua anaknya selama berjam-jam.

Dibandingkan dengan kedua adiknya, Elon cenderung pendiam dan introvert. Saking pendiamnya Elon, sehingga pernah membuat cemas sang Ibu yang takut bahwa pendengaran anaknya ini kemungkinan terganggu. Sifatnya yang introvert ini diamini oleh sang Ayah.

“Saat banyak orang pergi berpesta, bersenang-senang, minum, dan membicarakan berbagai hal seperti rugby atau olah raga,  akan melihat Elon menyusuri lemari buku dan mencermati setiap buku yang ada,” tutur Errol.

Selepas menjalani pendidikan dasar di di Waterkloof House Preparatory School, Elon masuk sekolah khusus murid laki-laki Pretoria Boys High School. Masa-masa pendidikan di bangku sekolah umum digambarkan kelam olehnya. Tak jarang ia mengalami perundungan (bully) oleh siswa di sekolahnya. Pada suatu waktu ia bahkan pernah dipukuli hingga masuk rumah sakit.

Satu hal yang menjadi tempat pelarian dalam menjalani masa kecilnya adalah teknologi. Ketika masih berusia 10 tahun, ia mulai tertarik dengan keterampilan komputasi dan mengenal pemrograman melalui Commodore VIC-20.