Budidaya Pisang : Nutrisi dan Cara Menanamnya (Bagian 1)

Budidaya Pisang : Nutrisi dan Cara Menanamnya (Bagian 1)
pisang

LAKBAN – Gerakan menanam menjadi salah satu prioritas membangun ketahanan pangan. Banyak lahan belum tergarap. Sementara kebutuhan pangan dalam negeri relatif tinggi. Pandemi menyadarkan kita bahwa integrasi ekonomi dunia tak serta merta selalu menjamin ketersediaan pangan dari tempat-tempat yang jauh.

Menanam sebagai bagian utama dari bertani dan berkebun juga bisa menjadi pilihan melonggarkan tekanan mental saat pembatasan terjadi di keramaian atau area publik. Hitung-hitung olahraga sekaligus memupuk semangat untuk produktif. Tentu dengan wawasan lingkungan agar sumber daya hayati kita lestari dan terjaga secara berkelanjutan.

Salah satu kebutuhan pangan adalah buah-buahan. Impor buah Indonesia tak kurang dari Rp 22 T setahun pada 2019. Besar sekali bukan? Sementara di masa pandemi ini kesadaran masyarakat akan pentingnya nutrisi dari buah-buahan juga semakin meningkat.

Nah, kali ini Lakban ingin mengupas cara budi daya pisang. Budidaya pisang menjanjikan prospek yang cerah. Pisang (Musa sp.) merupakan tanaman tropis yang sangat populer. Buahnya digemari dan telah dikirimkan ke berbagai belahan dunia.

Kandungan nutrisinya sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Antara lain potassium, Vitamin B6, Vitamin C, Magnesium, Mangan, dan Serat. Nutrisi tersebut dapat membantu menstabilkan gula darah, baik untuk jantung dan sistem pencernaan kita.

Indonesia memiliki keanekaragaman buah pisang yang tinggi. Setidaknya terdapat 10 varietas buah pisang unggulan yang membanjiri pasar-pasar lokal maupun ekspor.

Syarat tumbuh tanaman pisang

Pisang merupakan tanaman khas daerah tropis. Tumbuh dengan baik mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1300 meter dari permukaan laut. Curah hujan yang diinginkan tanaman ini sektar 1500 sampai 2500 mm per tahun dengan temperatur 15-35°C.

Tanaman pisang bisa tumbuh diatas hampir semua jenis tanah. Namun jenis tanah yang paling cocok adalah tanah yang bertekstur liat seperti aluvial, banyak mengandung kalsium dan bahan organik.

Persiapan bibit

Bibit memiliki peran penting dalam budidaya pisang. Untuk mendapatkan hasil maksimal selalu gunakan bibit yang bebas dari penyakit. Kalau bisa dapatkan bibit varietas unggul dari lembaga terpercaya. Terdapat 3 jenis bibit untuk budidaya pisang, yaitu berupa anakan, bonggol dan hasil kultur jaringan.

Bibit anakan merupakan bibit yang diambil dari tanaman pisang yang telah memiliki tunas atau anak. Anak tersebut dipisahkan dari tanaman pisang yang telah dewasa dan sehat.

Bibit bonggol didapatkan dari bonggol tanaman pisang yang telah dipanen. Kemudian tanaman tersebut dibongkar dan diambil bonggolnya (bagian pangkal bawah). Bonggol dibersihkan, karanya dipapas tanpa merusak tunas. Kemudian dibelah-belah lagi seukuran mata tunas, atau sekitar 10x10x10 cm. Kemudian potingan bonggol ditanam di media tanam. Bibit dari bonggol siap digunakan untuk budidaya pisang setelah tumbuh 3-4 bulan.

Kultur jaringan merupakan teknologi untuk memperbanyak tanaman yang dilakukan di laboratorium. Bibit dari kultur jaringan ini biasanya terbebas dari segala penyakit dan bisa diadakan dalam jumlah yang banyak. Ukuran bibit juga seragam sehingga pengaturan waktu panen lebih mudah dilakukan.

Persiapan lahan budidaya pisang

Pastikan lahan yang akan dijadikan tempat budidaya pisang terbebas dari penyakit Fusarium dan Pseudomonas. Bila sebelumnya lahan tersebut pernah terjangkit penyakit tersebut, lakukan pengendalian hama dan penyakit dengan benar.

Bersihkan lahan dari gulma, cangkul atau bajak tanah dengan kedalaman 30-40 cm. Buat bedengan memanjang sesuai dengan kontur lahan. Jarak antar bedengan diatur sesuai dengan jarak tanam.