Gengsi SMK Semakin Naik di Era Digital

Gengsi SMK Semakin Naik di Era Digital

 

LAKBAN –  Beberapa kota di Jawa Tengah memperlihatkan fenomena bahwa pendaftar SMK lebih banyak daripada pendaftar SMA. Apa sebab? Banyak hal melatarbelakanginya. Bahkan calon peserta didik yang memiliki nilai UN SMP tinggi ternyata lebih memilih SMK.

Menuntut ilmu menjadi kewajiban bagi semua orang. Hidup yang lebih baik dan bermakna ditopang oleh ketekunan dalam menimba, mengamalkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Peradaban berkembang dan kebaikan yang menular pada sesama pun tak lepas dari ‘jalan ilmu’.

Sekolah bukan satu-satunya jalan meraih sukses. Namun, sekolah tetap menjadi salah satu jalan yang paling populer untuk meraih pengetahuan. Juga mengembangkan nalar dan keterampilan. Mengasah diri untuk siap terjun dalam masyarakat. Termasuk dalam aspek sosial-ekonomi. Sekolah mengantarkan banyak orang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

“ingin cepat bekerja, membantu orang tua dan adik-adik saya, “ kata Agus Susanto, 15 tahun, seorang lulusan SMP di salah satu kota memberi alasan mengapa ia mendaftar ke SMK.    

Keinginan sebagian anak untuk masuk ke SMK adalah Ingin cepat kerja dan menjadi generasi yang produktif sesegera mungkin.  Pandangan yang tentu saja harus dihargai. Apalagi jika dilandasi dengan semangat kemandirian ekonomi. Suatu saat kelak si lulusan SMK bisa menjadi pengusaha yang berdaya saing kuat di bidangnya. Bisa membuka lapangan kerja untuk teman-temannya.

Apalagi ada politeknik dan sekolah vokasi di tingkat diploma yang bisa memperkuat kompetensi mereka. Sehingga banyak anak lulusan SMK yang pada akhirnya bisa lebih sukses dilihat dari sisi ekonomi. Sudah mandiri dan berpenghasilan memadai di usia muda. Termasuk mereka yang berkesempatan kerja di Jepang, Jerman, dan beberapa negara lainnya.

Hal yang berbeda berlangsung di Jakarta. Beberapa SMA negeri yang relatif masih dianggap unggulan menerima siswa dengan nilai UN yang tinggi. Terutama melalui jalur Zonasi yang relatif membuka ruang persaingan dalam satu kota dengan cakupan area yanmg luas. SMA N 13 dan SMAN 52 Jakarta Utara, misalnya, menerima input siswa yang tergolong berprestasi akademik tinggi.

Alasan untuk memilih SMA daripada SMK bagi sebagian anak cukup beralasan. Dalam pandangan sebagian alumni SMP di Jakarta, lulusan SMK pada akhirnya masih perlu kuliah untuk bisa bersaing di pasar kerja. Kecuali mereka yang masuk di SMK unggulan seperti SMK N 26 Jakarta.

“Masih perlu kuliah lagi. Nanggung. Mending di SMA dulu,”  kata Aldo alumni sebuah SMP N di ibukota.   

Jalan menjadi profesional di salah satu bidang memang beragam. Semua tergantung pilhan dan strategi seseorang. DI SMK kita bisa mendapatkan pendidikan yang menitikberatkan pada keterampilan pada salah satu kompetensi. Bahkan ada beberapa kompetensi yang setara jenjang D1. Sekolahnya selama empat tahun.

Punya minat yang tinggi dalam salah satu bidang kejuruan atau vokasi ? Bila ya, kamu bisa mempertimbangkan masuk SMK. Kalau di SMA kita hanya punya pilhan masuk jurusan, MIPA, IPS, atau Bahasa maka di SMK kita bisa memilih banyak kompetensi yang lebih spesifik. Misalnya kompetensi Tata Boga, Tata Busana, Administrasi Perkantoran, Permesinan Automotif, Konstruksi, Sistem Informasi Jaringan dan Aplikasi, dan sebagainya.