India dan Film Sebagai Industri Kreatifnya

India dan Film Sebagai Industri Kreatifnya
trendsetter film india (c) rishteycineplex

 

KETIKA film India banyak diputar di layar bioskop Indonesia, mungkin lebih banyak kalangan bawah yang menontonnya. Kala itu, buat anak-anak muda di negeri kita yang merasa dirinya lebih gaul akan malu kalau ketahuan nonton film India. Lain halnya dengan hari ini. Film India lebih banyak ditonton versi layar kacanya di Indonesia.

Film India memang punya banyak penggemar dengan cerita dan cara penyajiannya yang khas. Konflik hitam-putih menjadi salah satu cirinya. Kritik sosial atas ketidak adilan mungkin memang menjadi  isu sosial yang sangat kuat dilatar belakangi masyarakat yang berkasta-kasta.

Namun yang paling khas adalah musik atau lagu yang selalu menghiasi film India. Bahkan dalam satu film biasanya ada beberapa lagu. Jadi kamu kayak lihat film semi musikal ya. Sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui. Nonton film plus serasa nonton konser juga. Apalagi koreografi tariannya yang khas dan atraktif.   

Sebagian mungkin masih ingat betapa film televisi Mahabarata sempat meraup penonton dalam jumlah yang sangat signifikan di Indonesia. Juga tayangan-tayangan lain yang muncul kemudian. Kamu yang termasuk generasi milenial banyak juga yang menikmati film India dari situs berbagi video.

Film-film India yang berkelas juga semakin banyak muncul. Baik film konvensional maupun film-film animasi. Kualitasnya bahkan bisa menandingi film-film produksi Hollywood. Atau setidaknya melampaui produksi negara-negara Asia lainnya.

Pasar Lokal dan Dunia sudah dirambah film India sejak lama. Industri film India telah berkembang sejak tahun 1913 saat masih dalam masa kolonial Inggris dengan film bisu pertamanya yang berjudul Raja Harishchandra.

Kemudian pada tahun 1931 film bersuara dengan judul Alam Ra menandai  semakin berkembangnya industri film di sana. Hingga saat ini, mereka telah menghasilkan sekitar 27.000 film dan ribuan film dokumentasi pendek. Ekspor film India pernah melampaui  penjualan domestiknya. Siapa yang nonton film-film India di luar negerinya? Salah satunya adalah para imigram asal India yang tersebar di berbagai belahan dunia. Kanada adalah salah satu negara yang banyak mengimpor film India.

Kemajuan industrial di seluruh jejaring industri mereka, seperti infrastruktur, ritel, pembiayaan, pemasaran, dan distribusi. Pusat industri film India ada di Mumbai, Chennai, dan Hyderabad. Mumbai ini nama kota yang dulunya dikenal sebagai Bombay hingga para pewarta menjulukinya Bollywood untuk menunjukkan kemampuannya bersaing dengan industri film Hollywood di AS.

Sementara itu, Kota Chennai menjadi pusat industri film berbahasa Tamil dan Hyderabad menjadi pusat industri film berbahasa Telugu. Sepintas kita mungkin menganggapnya sama karena penampilan dan bahasa yang terdengar mirip di telinga kita.

Produktifitas yang tinggi. Pada tahun 1971, Bollywood memecahkan rekor produksi film terbanyak sepanjang masa dengan 433 judul film dikeluarkan tahun itu. Bisa dibayangkan modal yang terlibat dalam proses produksi film sebanyak itu.

Dan yang mencengangkan adalah bagaimana pasar menyerapnya. Memang India memiliki jumlah penduduk yang besar, namun tanpa kebanggaan pada karya lokal, kreatifitas seniman, dan keberfihakan pemerintahnya, tentu industri filmnya tidak akan dapat menjadai ladang ekonomi yang menjanjikan.

SDM yang tumbuh dan berkesempatan mengembangkan talenta pun sangat banyak. Industri film India mampu  mempekerjakan tak kurang dari 25 juta orang. Tentu saja tidak hanya mereka yang terlibat langsung dengan proses kreatif dan proses produksinya, namun juga mereka yang bekerja pada sektor-sektor pendukungnya.

 

<div style="position:relative;height:0;padding-bottom:39.15%"><iframe src="https://www.youtube.com/embed/7D5qsQYWZBo?ecver=2" style="position:absolute;width:100%;height:100%;left:0" width="920" height="360" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></div>