Kelas Yang Oke, Guru Yang Hebat bagi Milenial (2)

Kelas Yang Oke, Guru Yang Hebat bagi Milenial (2)

LAKBAN – Dunia berubah, lingkungan berubah. Dalam banyak hal orang harus mengubah cara untuk menghadapi hidup. Pendidikan pun harus menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan. Dan para guru sangat penting perannya dalam proses perubahan itu. Kali ini kita akan mengunjungi lima kiat manajemen kelas yang semua guru dapat manfaatkan.

Kelas harus lebih banyak menjadi tempat murid dan guru berinteraksi secara wajar sesuai situasi dan kondisi yang dihadapinya. Target dalam pencapaian prestasi akademik tidak akan terbengkalai manakala guru menjadikan kelas sebagai tempat menanamkan nilai-nilai positip. Bahkan sebaliknya, murid akan terpacu dan belajar secara mandiri. Pada hal tertentu yang tak difahaminya murid dapat bertanya pada guru, teman atau mencarinya di buku atau di dunia maya.

Beberapa kita berikut ini penting bagi guru agar dapat menjalankan perannya secara optimal. Simak ya!

#1. Ajarkan kebiasaan baik untuk membangun akhlaq atau karakter

Karakter dengan pengertiannya dengan akhlaq. Akhlaq secara sederhana bisa diukur dari kebiasaan sehari-hari. Jika hal itu diajarkan dengan baik, dilakukan sepenuh hati, akan menjadi indikator yang paling jelas dari keberhasilan pendidikan.

Jika sikap dan motivasi dasar sudah terbangun menjadi kebiasaan maka hal itu akan menghemat banyak waktu belajar, bahkan secara dramatis mengurangi perilaku buruk, dan membantu siswa tetap fokus pada apa yang penting.

Sebuah pola yang terbentuk dalam sikap akan mengendap dalam pembentukan karakter siswa. Bagaimana memasuki kelas di pagi hari, cara mengajukan pertanyaan, cara bekerja, dan bagaimana melakukan setiap rutinitas lainnya.

#2. Buat komitmen yang tak tergoyahkan untuk rencana manajemen kelas

Rencana pengelolaan ruang kelas yang diikuti secara tidak konsisten adalah salah satu kesalahan guru yang paling umum. Tata tertib harus dijalankan tanpa banyak kompromi. Ketegasan dalam mematuhi aturan akan membentuk kelas yang ‘respek’.

Kerugian besar akan dialami manakala guru melanggar komitmen yang telah dibuatnya. Kontrak belajar antara guru dan murid pun kehilangan maknanya. Padahal dari kesepakatan itulah keberhasilan proses pendidikan dapat diraih. Guru akan kehilangan lapisan kepercayaan dari siswa.  

Tindakan tidak konsisten menyebabkan kebencian dan kecemburuan. Apalagi karena alasan tertantu yang sebenarnya tidak mendasar. Hal itu mengirim pesan bahwa kita tidak sungguh-sungguh menjalankan apa yang kita katakan.

Selain itu, guru yang gagal mengandalkan rencana yang jelas untuk meminta pertanggungjawaban siswa membuat perilaku menjadi lebih buruk dengan jatuh ke metode yang menyakitkan seperti berteriak, memarahi, dan sarkasme.

Mereka juga cenderung menganggap perilaku buruk secara pribadi, memiliki hubungan yang buruk dengan siswa, dan mengalami banyak tekanan.

#3. Bangun hubungan yang memengaruhi perilaku dengan siswa

Memiliki hubungan positif dengan siswa membuat segalanya lebih mudah, terutama manajemen kelas. Ketika siswa kita menyukai kita dan memercayai kita, mereka ingin menyenangkan kita, yang pada gilirannya memberi kita pengaruh yang kuat untuk memengaruhi perilaku mereka. Dan berita terbaiknya adalah, itu tidak sulit.

Jika kita hanya senang dalam interaksi kita dengan siswa, jika kita terbuka untuk tertawa dan melihat humor di kelas kita dan dalam kepribadian yang unik dan luar biasa dari siswa kita, maka hubungan yang mempengaruhi perilaku akan tumbuh secara alami. Siswa kita akan memkitang kita dan tertarik pada kita secara organik dan tanpa upaya strategis.

 

4. Luangkan lebih banyak waktu mengamati dan lebih sedikit waktu mengelola mikro.

 

Kebanyakan guru berbicara terlalu banyak, terlalu banyak membantu. Yang benar adalah, manajemen mikro melahirkan siswa yang membutuhkan, menuntut, dan tergantung yang mengharapkan dari kita apa yang dapat mereka lakukan untuk diri mereka sendiri. Ironisnya, itu juga menyebabkan mereka bosan dengan kehadiran kita yang konstan dan mengganggu.

Jadi, alih-alih berdesak-desakan di ruangan itu, menelaah satu demi satu siswa, fokuskan energi kita untuk memberikan pelajaran yang jelas, efisien, dan berdampak tinggi, pemeriksaan pemahaman yang menyeluruh, dan harapan praktik yang diam, fokus, dan mandiri — selagi kita amati dari jarak dekat.

 

5. Bertanggung jawab atas siswa kita — baik pembelajaran maupun perilaku mereka.

Dalam profesi kita, mungkin lebih dari yang lain, mudah — terlalu mudah — untuk mengarahkan jari ke keadaan luar. Ada lusinan pembenaran siap pakai mengapa siswa kita berperilaku tidak pantas, mengapa mereka tidak sopan, mengapa mereka tidak mendengarkan atau mengerjakan pekerjaan rumah atau bekerja bersama, dll.

Tetapi pada akhirnya, menyalahkan orang tua, video game, atau lingkungan tempat tinggal mereka, misalnya, tidak menyelesaikan apa pun dan membuat menciptakan ruang kelas yang benar-benar kita inginkan menjadi mustahil. Ini juga mirip dengan menyerah pada mereka, mengacaukan perilaku mereka dan membatasi potensi mereka.