Layar Lebar : Joker dan Moralitas?

LAKBAN – Warner Bros memang studio yang telah melahirkan banyak karya box offfice. Dan kali ini kejutannya menyengat. Salahkah sang tokoh yang selama puluhan tahun dicap antagonis? Latar belakang kehidupan yang sedemikian pahit membuat seorang Arthur menjelma menjadi sosok yang berbahaya. Inilah pesan kuat yang tersirat lewat film Joker.

Kalau kamu mati angin dan ingin mendapatkan satu hiburan berkualitas maka cobalah menyaksikan ffilm ini! Dijamin kamu akan terkesan. Lebih dari sekedar terhibur.  

Benarkah baik dan buruk tergantung cara memandang? Wah ini bisa gawat! Keyakinan nilai atau moralitas inilah yang digugat oleh Sutradara Todd Phillips dalam film yang menghentak bioskop di bulan Oktober 2019 ini. Joker, ya lawan bebuyutan Batman ini mewakili pribadi yang meracuni, sinis, dan tak bertanggungjawab.

Kritikus menyebut film ini setara dengan satire karya legenda Martin Scorsese The King of Comedy dan Alan Moore dan novel grafis Brian Bolland Batman: The Killing Joke. Komedi hitam yang justru bisa dipandang sebagai thriller bahkan horror paling mengejutkan.  

Pemilihan aktor utama film ini memang tepat. Joaquin Phoenix memerankan Joker dengan luar biasa bagus. Heath Ledger yang memenangkan Oscar dalam The Dark Knight, Joker memiliki kartu as dalam bentuk penggambaran fisik Joaquin Phoenix yang memesona tentang seorang pria yang akan menjadi raja.  Phoenix adalah mimpi buruk yang tragisomik. Ia badut yang terkepung. Kondisi medis yang mengubah jeritan hatinya menjadi tawa terkekeh.

Kepahitan semacam apa yang digambarkan dalam film ini terjadi di sekitar kita. Diintimidasi, dilecehkan, dan semakin marah, Arthur tinggal bersama ibunya, Penny (Frances Conroy), di Gotham, sebuah kota yang dilanggar oleh pemogokan sampah dan dibanjiri oleh tikus mutan. Dia bermimpi menjadi komik standup tetapi tidak tahu apa yang orang lain anggap “lucu”.

Hantu Pupkin menggantung seperti hantu busuk di atas Joker, dari mimpi fantastis Arthur tentang ketenaran hingga tema media tentang narasi yang membuat para penjahat menjadi penjahat di masa-masa yang tidak pasti.

Ketika Thomas Wayne yang kaya (Brett Cullen) menyebut massa Gotham yang miskin sebagai "badut", kata-katanya bergema di sekitar layar TV yang tak ada habisnya, memberikan topeng gaya V untuk Vendetta kepada kerusuhan para pengunjuk rasa yang membawa plakat "Bunuh Orang Kaya".

Melalui lansekap terpencil ini menari manusia Phoenix yang kesepian, menempuh jalan dari viktimisasi menjadi balas dendam. Jika Joker yang dikasihi Jack Nicholson yang aneh mungkin menggambarkan dirinya sebagai "artis pembunuh pertama yang berfungsi penuh di dunia" dalam Batman Tim Burton, Arthur Phoenix hanyalah seorang narsisis patologis yang ingin sekali kembali ke dunia.

Menonton film ini membuat kita bertanya kembali tentang benar dan salah. Cakep banget deh!