LDR, Sanggupkah Kamu?

LDR, Sanggupkah Kamu?

LAKBAN – Buat yang sudah menikah terkadang jarak harus memisahkan. Misalkan pasangan bekerja di tempat yang jauh. Mau ikut membersamai kadang banyak kendala dan pertimbangan. Hal ini mau tidak mau seringkali harus dijalani. Misalkan oleh para tentara dan polisi. Penugasan tertentu dengan mobilitas tinggi tak mungkin diikuti pasangannya.

Ada juga pasangan yang bekerja di dua kota yang berbeda dengan jarak yang relatif jauh. Mau tidak mau long distance relationship (LDR) menjadi pilihannya. Terpaksa atau tidak ada baiknya kamu mempertimbangkan secara rasional sebelum menjalani hubungan semacam ini.

“Jarak takkan memisahkan cinta.” Tentu saja tak semudah itu dalam praktiknya. Banyak hubungan LDR yang berakhir dengan perpisahan. Maka berusahalah sekuat mungkin untuk kembali pada tujuan membangun rumah tangga. Bukan untuk kesenangan belaka. Bukan pula sekedar tuntutan status.

Kebutuhan romantis dan biologis tentu saja bisa dikelola. Pengorbanan tentu ada harganya. Kelak kebahagiaan yang akan dinikmati bersama. Apa gunanya semua yang diraih kalau hubungan dengan pasangan berantakan?

Milenial dan kaum muda produktif yang hari ini lagi sibuk-sibuknya beraktivitas tentu punya banyak pengalaman untuk dibagikan terkait LDR ini. Sebut saja Z yang berprofesi sebagai pelaut. Lebih lima tahun hubungan LDR dijalani dengan pasangannya. Gaji yang cukup tinggi sudah bisa untuk membeli properti dan kendaraan, namun dia kesulitan dalam hal membina keharmonisan hubungan rumahtangga. Akhirnya Z ingin berhenti sebagai pelaut dan bekerja di darat. Tentu konsekuensi penghasilan yang relatif rendah dibandingkan gaji pelaut.

Lalu apa yang harus dipertimbangkan sebelum menjalani hubungan LDR? Ini ulasan Lakban buat kamu!

#1. Komitmen

Harus ada niat, tekad, kesepakatan dan saling pengertian dalam membina hubungan jarak jauh. Tak semudah yang dibayangkan ada banyak hambatan dalam LDR. Semua itu harus dibahas tuntas bersama pasangan. Resiko untuk selingkuh alias mendua sangat besar. Tak hanya itu banyak pula pasangan yang merasa terabaikan dalam hubungan jarak jauh.  Maka komitmen menjadi sangat penting sebagai dasar membangun kepercayaan satu sama lain.

#2. Komunikasi

Jangan sampai mengabaikan komunikasi. Toh semakin banyak pilihannya dan kemudahannya. Bisa melalui aplikasi chat bahkan video call. Kalau LDR komunikasinya pakai email terlalu formal dan kurang interaktif. Email lebih cocok untuk urusan bisnis. Tak hanya soal kuantitas dan intensitas namun juga soal kualitas dalam komunikasi. Banyak hal yang harus diprioritaskan untuk dikomunikasikan. Cara penyampaiannya harus benar meski jangan sampai terjebak dalam formalitas.                                                                                                                      

#3. Efisien

Bila tinggal tak serumah berarti dua dapur yang harus ngebul. Maka perlu strategi agar pengeluaran lebih irit. Juga dalam hal komunikasi. Mau nggak mau kuota atau paket data harus dipertimbangkan agar komunikasi tetap lancar tapi kocek nggak bolong. Dengan melanggan operator yang sama komunikasi melalui jaringan seluler reguler terjaga dan tetap hemat.   

#4. Memahami  Kebutuhan

Kebutuhan biologis dan romantis pasangan harus bisa dijembatani dengan pemahanan yang dibangun bersama. Kadangkala pasangan tidak bisa berterus terang. Mengungkapkannya sebagai kebutuhan akan perhatian. Kebutuhan ekonomi juga perlu difahami bersama. Sehingga tidak ada kecurigaan ‘kebocoran anggaran’ yang bisa berakibat pada hilangnya kepercayaan.  

#5. Rutinitas

Ada rutinitas yang bisa menjadi pengingat bahwa hubungan tetap terjaga. Misalkan mengucapkan selamat pagi dan semalat malam lewat ponsel. Disamping menjaga keterhubungan rutinitas ini juga menjaga hati agar tetap dekat satu sama lain.

Tentu masih banyak hal yang bisa kamu dapati dari sumber lain. Tapi 5 hal di atas bisa menjadi pertimbangan awal kamu sebelum dan selama menjalani hubungan jarak jauh alias LDR. Kalaupun kamu menghadapi masalah di tengah jalan, kamu bisa segera mengantisipasinya.