Proses Kesuksesan Steam Yang Pada Awalnya di Protes

Proses Kesuksesan Steam Yang Pada Awalnya di Protes

LAKEYBANGET.COM – Apa kalian tahu siapa Gabe Newell atau Mike Harrington ? sebagian besar dari kalian pasti belum mengetahui siapa mereka. Mereka berdua adalah founder dari salah satu studio game bernama Valve yang sekarang lebih dikenal sebagai Valve Cooporation. Mereka berdua merupakan salah satu orang terkaya di Dunia bahkan kekayaannya mengalahkan Presiden Amerika Donald Trump.

 

Gabe Newell dan Mike Harrington merupakan seorang mantan pegawai Microsoft yang keluar dan mendirikan studio game bernama Valve. Namun kekayaan mereka sebenarnya dimulai bukan dari Valve tapi dimulai ketika Valve mengerjakan proyek source engine dan steam.

Meskipun sebagian pembaca ada yang belum paham mengenai apa itu Valve, Steam, atau teknologi bukan bidang kalian, tapi disini kita akan lebih fokus terhadap proses kesuksesan sebuah perusahaan sehingga kalian bisa mengambil pelajaran atau hikmah dari kisah ini. Sedikit penjelasan, steam adalah sebuah platform yang khusus untuk mendistribusikan game.

Kesuksesan game-game yang telah dirilis oleh Valve membuat semua orang yang ingin memainkan game tersebut diwajibkan untuk mengaktivasikannya melalu platform baru yang dibuat oleh Valve yaitu steam. Nah dari sinilah awal mula tambang emasnya seorang Gabe Newel sebagai founder Valve.

Kewajiban para pengguna game Valve untuk mengaktivasikannya melalui steam terkesan sebagai tindakan yang aneh dan anti konsumen, karena para player melihat ini sebagai cara Valve untuk memonopoli game mereka. Pada awal peluncuran Steam, segalanya tak berjalan baik-baik saja, banyak masalah yang terjadi seperti isu traffic dan overload.

Meskipun begitu, sebenarnya tujuan Valve merilis steam itu sangat baik, mereka ingin game-game yang mereka buat terpantau sehingga kualitas gamenya selalu berada dalam kondisi yang terbaik. Jadi, jika ada masalah atau bug mereka bisa update atau patch gamenya secara langsung melalui steam, bayangkan saja jika dulu kita membeli game fisik atau kaset lalu ada masalah atau error pada gamenya tapi tidak ada akses untuk mendapatkan perbaikannya, kan jadi bingung.

Nah inilah yang ingin Valve hilangkan di tahun 2002, kebingungan para konsumen ketika gamenya ada masalah. Valve ingin game-game yang dibuatnya terus berada dalam kondisi yang sempurna dan yang dilakukan oleh Valve merupakan tindakan untuk meningkatkan kualitas produk/game dan meningkatkan kualitas pelayanan.

Namun diluar niat baik Valve, banyak sekali perbedaan pendapat antara menerima sistem ini atau menolak sistem ini. Karena para player harus mengaktivasikan game mereka secara online, sehingga dari sini munculah isu DRM (Digital Rights Management) yang banyak dikeluhkan oleh banyak konsumen yang gambaran kecilnya seperti isu RUU Permusikan di Indonesia kemarin.

Pada tahun 2004 Valve menyatakan bahwa game-game mereka selanjutnya akan membutuhkan steam dimasa depan, sehingga inilah yang dikeluhkan oleh banyak konsumen dan menganggap bahwa apa yang Valve lakukan merupakan tindakan anti konsumen karena pada saat itu tidak semua orang memiliki akses internet dan juga masalah-masalah lain yang dikeluhkan antara lain adalah error system pada steam, para konsumen sudah tidak bisa lagi meminjamkan kaset mereka ke temannya atau menjual lagi gamenya karena steam memblokir semua kegiatan tersebut.

Tapi dari semua isu negatif ini ada juga positifnya, pengembangan Valve terhadap source engine dan steam melahirkan modding scene yang membuat game populer terbaik yang sekarang kita kenal sebagai Counter Strike, yang merupakan salah satu hasil modding dari game half life diberikan gratis SDK (Software Development Kit) nya kepada user oleh Valve. Dan hal tersebut membuat nama steam menjadi sangat besar dan populer.