Ras, Etnis, dan Keragaman (Bagian 2)

Ras, Etnis, dan Keragaman (Bagian 2)
ilustrasi ras (c) researchdesignreview

LAKBAN – Kekerasan rasial atau konflik etnis masih sering melanda dunia. Mungkin karena kita tidak saling mengenal satu sama lain. Mungkin juga karena ketakutan atas dominasi ‘yang lain’  terhadap  ras atau etnis kita.

Diantara yang ditakuti sebagian warga dunia adalah ekspansi Ras Kuning. Ras Kuning atau Mongoloid digunakan untuk identifikasi fenotipe khas dari mayoritas penghuni Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, dan bahkan beberapa penghuni di Eropa Utara, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Juga di sebagian Afrika.   

Istilah Ras Mongoloid diambil dari kata Mongolia. Penamaan yang salah kaprah karena ciri penduduk Mongolia justru minoritas dalam rumpun Keluarga Mongoloid. Di Asia Tenggara, seperti kita, yang terpapar iklim tropis cenderung memiliki kulit coklat. Hingga cenderung mengidentifikasi sebagai ras yang berbeda dengan mereka yang berkulit kuning.

Sementara penduduk Asli Amerika Utara dan Selatan yang sering disebut Indian sering diberi label ‘kulit merah’.   Padahal mereka satu rumpun lho dengan kita. Ukuran tubuh yang lebih pendek dari ras Kaukasoid menjadi salah satu pembeda utama. Juga mata sipit dan rambut lurus.

Para peneliti ada yang membagi klasifikasi lebih  spesifik. Yaitu Ras Asia Utara atau Asiatic Mongolid, Ras Asia Tenggara atau Malayan Mongoloid, dan Ras Indian Amerika atau American Mongolid. Populiasi ras Asiatic Mongolid memang paling besar di dunia. Wajah-wajah oriental bertebaran dimana-mana.

Sementara ras Malayan Mongoloid banyak yang berasimiliasi dengan ras Australoid di sebagian Asia Tenggara dan Madagaskar. Termasuk di Filipina dan Indonesia. Di berbagai suku, pembauran antar ras ini bisa diidentikasi baik dari sejarah perkawinan dan persinggungan budaya yang mengikutinya. Dari faktor budaya itulah muncul identifikasi etnis.

Etnis adalah kelompok populasi yang saling mengenal berdasarkan kewarganegaraan umum atau tradisi budaya bersama. Etnis berkonotasi dengan ciri budaya bersama. Juga sifat linguistik dan reliji. Ideologi politik di abad ke-19 melahirkan negara-negara berbasis kesamaan etnis yang diperluas dengan istilah bangsa atau nation.

Barulah pada abad ke-20 kebanyakan negara mulai melarang diskriminasi etnis dan rasial. Namun demikian kekerasan rasial dan konflik antar etnis tetap berlanjung hingga memasuki abad 21. Lihatlah konflik antara etnis Hutu dan Tutsi di Rwanda. Juga antara etnis Tamil dan Sinhala di Srilanka. Konflik yang memakan banyak korban.

Kita berharap dunia akan selalu damai. Dengan saling mengenal dan memahami. Sebagaimana pesan Kitab Suci.   

<iframe width="529" height="397" src="https://www.youtube.com/embed/RKBrmDfQfWE" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>