Seberapa Greget Kita untuk Meneliti?  

Seberapa Greget Kita untuk Meneliti?  
(c) questionpro

LAKEYBANGET.COM - Meneliti adalah bagian dari kehidupan seseorang. Teringat kita pada jargon iklan jadul “Teliti Sebelum Membeli”. Memang pengertian penelitian tidak melekat dengan kata sifat teliti. Namun unsur ketelitian memang lekat dengan penelitian yang identik dengan kata riset. Istilah research berakal dari kata dalam Bahasa Perancis yang kemudian diserap Bahasa Inggris.  Search : mencari. Re-search : Mencari kembali.

Riset adalah keniscayaan dalam keseharian. Misalkan produsen yang melakukan riset pasar agar produknya laku. Saat ini mereka yang bisa mengakses Big Data mampu ‘membaca’ pikiran konsumen. Sebaliknya konsumen juga harus melakukan riset agar tak salah beli. Riset kecil-kecilan sangat bermanfaat buat kehidupan sehari-hari. Tentang diri kita sendiri. Lingkungan terdekat kita. Orang-orang di sekitar tempat tinggal kita. Teman dan sahabat juga bisa menjadi obyek penelitian.  

Semakin maju peradaban semakin kuat budaya risetnya. Jepang menajdi salah satu negara di Asia yang unggul karena budaya risetnya yang kuat. Jika budaya riset sudah dilakukan sejak usia dini, maka logika akan terasah dengan baik seiring berjalannya waktu. Di buku-buku pelajaran siswa SD pun ada materi eksperimen yang biasanya ada di akhir sebuah bab pelajaran tertentu. Namun seberapa banyak guru yang mendorong siswanya melakukan eksperimen masih menjadi pertanyaan besar.   

Pada dasarnya manusia punya sifat ingin tahu atau curiosity yang tinggi. Apa ini ya? Mengapa begini? Apa hubungannya antara ini dan itu? Ada banyak pertanyaan yang menuntut jawaban. Jadi kita butuh penelitian untuk menjawab banyak hal yang ada di depan mata. Penelitian bukan tentang sesuatu yang mengawang-awang.

Data dan fakta menjadi pijakan dalam meneliti sesuatu. Gagasan dan argumen menumpuk di kepala harus dituangkan. Dan penelitian menjadi jalan untuk mewujudkannya. Dengan metoda ilmiah yang disepakati secara luas kita bisa melakukan penelitian yang hasilnya kelak bisa dipertanggungjawabkan.

Meneliti dalam pengertian khusus adalah bagian tak terpisahkan dari seorang akademisi, pelajar, mahasiswa, dan peneliti. Apa gunanya gelar akademis  kalau kegiatan meneliti dan menulis paper atau buku terhenti? Kesadaran untuk selalu melakukan riset itulah yang akan membuat ilmu pengetahuan berkembang dan sebuah lembaga pendidikan mampu menjawab tantangan zaman.

Bukan sekedar kewajiban akademik. Riset atau penelitian adalah turunan dari cara berpikir ilmiah. Mengikuti kaidah yang ketat dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mencoba mengikuti diklat Penelitian tingkat dasar hingga tingkat lanjut. Dari menguji implementasi teori hingga menemukan teori baru.

Untuk melakukan sebuah penelitian, seseorang harus memiliki bekal ilmu yang cukup memadai. Salah satu yang wajib dikuasai adalah Metodologi Penelitian. Hal ini pada akhirnya menuntut seorang peneliti untuk banyak membaca referensi terkait obyek yang akan ditelitinya. Sebagian besar waktu peneliti sosial humaniora dihabiskan di kampus dan di lapangan tempat penelitian dilakukan. Sementara peneliti sains eksakta bisa jadi akan menghabiskan waktunya di laboratorium atau di situs yang menjadi objek penelitiannya.

Terkadang sebuah kegiatan penelitian hanya berhenti sebagai sebuah kewajiban semata, hanya untuk mengejar angka kredit sebagai dosen atau nilai KUM. Padahal bila niatan ini bersamaan dengan gairah untuk meneliti dan berkontribusi bagi pengembangan keilmuan tentu akan lebih baik dan bermanfaat.

Penting untuk menetapkan di awal proyek penelitian mengapa kita melakukan penelitian, apa yang ingin kita temukan dan bagaimana kita akan menggunakan temuan kita:

  • Apa yang ingin kita ketahui?
  • Apa yang ingin diketahui oleh organisasi kita? Apakah ini sama?
  • Siapa lagi yang berkepentingan dengan penelitian (penyandang dana?) Apa yang ingin mereka ketahui?