The Professor and the Madman: Kisah Epik di Balik Penyusunan Kamus Oxford

The Professor and the Madman: Kisah Epik di Balik Penyusunan Kamus Oxford

THE PROFESSOR AND THE MADMAN, merupakan film bergenre biografi-sejarah yang mengisahkan tentang penyusunan Oxford English Dictionary. 

Film yang rilis 21 Maret 2019 yang lalu ini, diangkat dari novel karya Simon Winchester dengan judul yang sama. 

Mengisahkan tentang kerja keras Professor James Murray (diperankan oleh Mel Gibson) yang dengan berani memulai proyek besar menulis Oxford English Dictionary (OED).

James Murray awalnya diragukan untuk mengerjakan pekerjaan besar itu. Selain karena sebelumnya pekerjaan itu selalu gagal dilaksanakan, juga karena Murray bukanlah seorang bergelar sarjana. Ia sudah berhenti sekolah sejak usia 14 tahun.

Meski begitu, Murray adalah seorang pembelajar otodidak. ia mengerti berbagai macam bahasa hingga tingkatan yang mendalam. 

Atas kemampuan itu, pihak Universitas Oxford mempertimbangkan, dan memberinya kesempatan untuk mengerjakan proyek yang awalnya dianggap mustahil itu.

Awalnya, Murray mulai menyusun OED dengan memberi imbauan berupa selebaran kepada seluruh masyarakat yang mengerti bahasa Inggris untuk menjadi sukarelawan menulis arti dari setiap kata dalam bahasa Inggris. 

Seluruh definisi dari suatu kata yang telah ditulis oleh sukarelawan dihimpun oleh Murray, untuk kemudian diseleksi dan disusun menjadi OED. 

Satu diantara sukarelawan yang menjadi perhatian dalam film ini adalah Dr. William Minor (diperankan oleh Sean Penn), seorang pengidap skizofrenia yang sebagian besar waktu hidupnya di jalani di dalam rumah sakit jiwa.

Ia dianggap gila karena kerap kali dihantui bayang-banyang masa lalunya. Ia juga sempat diadili karena membunuh seorang lelaki dihadapan sang istri Eliza Marret (diperankan oleh Natalie Dormer). 

Di penjara rumah sakit jiwa itu, Dr. Minor menemukan selebaran Imbauan dari Professor Murray untuk menulis arti dari kosakata bahasa Inggris. 

Mengatahui informasi itu, Minor meminta kepada pihak rumah sakit agar buku koleksinya ditambah untuk memperkaya pengetahuannya.

Dengan tekun Dr. Minor menulis satu demi satu kata. Hingga penjaga ruangannya terkaget ketika melihat seluruh dinding ruangan telah tertempel berlembar-lembar kosakata yang telah diartikan.

Minor meminta meminta agar ribuan lembar kosakata yang telah Ia tulis itu dikirim kepada Professor Murray untuk membantunya dalam menyusun OED. 

Meski film biografi, namun film ini terkesan tidak monoton. Karena ditambah sentuhan drama, terutama ketika Minor begitu berhasrat untuk menebus kesalahan karena telah membunuh lelaki yang tak lain suami dari Eliza Marret. 

Hubungan antara Minor dan Eliza menjadi salah satu sisi yang menarik di film ini. Terjadi hubungan tarik ulur antara keduanya. 

Hingga suatu ketika, Eliza menjenguk Minor di rumah sakit dan mengadiahinya buku. Akhirnya minor tahu kalau Eliza tidak bisa membaca, ketika Ia meminta untuk membaca judul buku yang diberikannya itu. 

Minor kemudian memohon pada Eliza agar bersedia diajari membaca. Minor berusaha keras, agar ketika sudah bisa membaca Eliza bisa mengajarkan ke anak-ankanya.

Selain hubungan dengan Eliza, ambisi dari dokter yang menangani Minor pun jadi sebuah sisi menarik. Di mana sang dokter Winston Churchill (diperankan Brendan Patrick) melakukan berbagai eksperimen untuk menyembuhkan Minor. 

Metode yang dilakukan oleh Winston dinilai terlalu berlebihan, bahkan melakukan kekerasan fisik, sehingga Minor tak kunjung berprogres menuju kesembuhan. 

Bagi penulis, film ini cukup menarik bagi pecinta film biografi maupun drama. Meski di awal cukup monoton, namun jika sudah menemukan benang merah ceritanya, film ini dijamin akan menarik. Apalagi di sepanjang film akan disuguhi kata-kata bagus terkait pentingnya pengembangan dunia literasi.