Tips Efektifkan Pembelajaran Daring (Bagian 2)

Tips Efektifkan Pembelajaran Daring (Bagian 2)

LAKBAN – Belajar daring semakin populer saat pandemi dengan konsekuensi segalanya dibatasi termasuk belajar di kelas luring atau konvensional. Semakin banyak hal yang harus diselesaikan di rumah. Artikel ini melanjutkan bagian sebelumnya. Di bagian pertama ditekankan pada pendekatan yang efektif, optimalisasi dengan video, dan menyertakan aspek komunikasi.

Sekarang kita masuk ke butir keempat sampai dengan keenam. Bahasan kita semakin menarik. Yakni tentang Virtual Reality, Paket Pelajaran Fleksibel, dan Tim Guru yang kompeten.    

Keempat, Menerapkan Virtual Reality (VR)

Virtual Reality (VR) adalah teknologi yang relatif baru yang telah mengambil alih dunia e-learning dengan kecepatan luar biasa. Alasan utama di balik VR dalam pendidikan didasarkan pada bagaimana fungsi otak manusia.

Rata-rata, otak mampu mengingat 10% dari apa yang dibaca siswa, 20% dari apa yang mereka dengar dan sekitar 90% dari apa yang sedang dilakukan atau distimulasi.

Beberapa cara umum yang dengannya VR dapat dimasukkan dalam pembelajaran daring adalah : (a) Pendidikan khusus. Bagi para siswa yang cacat fisik, VR dapat bertindak sebagai anugerah dalam penyamaran. Mereka dapat menjelajahi seluruh dunia melalui headset mereka dan, di samping itu, ini meninggalkan dampak sempurna pada proses belajar mereka juga.

(b) Pembuatan Konten. Sampai sekarang, kursus VR terutama difokuskan pada kursus sejarah dan sains, tetapi kenyataannya tetap bahwa teknologi ini dapat disesuaikan dengan tema atau subjek apa pun, memastikan kemungkinan yang tak terbatas.

(c) Field Trip atau Karyawisata.  Dengan siswa VR bisa berada di tempat-tempat yang secara fisik tidak dapat diakses atau jauh, memberikan rasa kehadiran kepada mereka. Secara potensial, kelas-kelas ini berdiri sebagai pesaing kuat terhadap ruang kelas tradisional juga.

Kelima, Paket Pelajaran Fleksibel

Sekarang, ketika belajar daring, siswa memiliki kemudahan belajar dengan kecepatan mereka sendiri, tetapi kemungkinan rencana pelajarannya masih konvensional. Kurikulum menjadi acuan namun eksekusinya membutuhkan pengayaan sesuai kebutuhan masa depan.

Alih-alih berpegang pada aturan sekolah lama, sekolah perlu mengeksplorasi rencana pelajaran yang fleksibel yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik siswa. Setiap siswa atau pembelajar semestinya sudah mampu memetakan kebutuhan belajarnya.  

Dengan model ini, mereka tidak harus berkutat pada satu topik selama berjam-jam. Tetapi diarahkan untuk memecahkan masalah dengan waktu belajar yang terfokus pada konsep-konsep sulit.

Keenam, Tim Guru Yang Kompeten Dan Terampil

Tidak peduli seberapa canggih atau unik sistem e-learning itu, harus selalu didukung oleh tim guru yang kompeten dan terampil yang membuat belajar di kelas sesuai dengan persyaratan siswa.

Kelas seperti itu pada dasarnya tersusun dari jadwal yang ketat dan disiplin, kurikulum yang dipikirkan dengan baik dan elemen-elemen terkait yang akan membuat proses pembelajaran menjadi mulus seperti yang seharusnya.