Lakeybanget.com – Memiliki mobil listrik tak berhenti pada harga kendaraan. Pemilik juga perlu menyiapkan fasilitas pengisian daya di rumah agar tak terus bergantung pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
Salah satu pilihan yang banyak digunakan adalah wall charger atau home charging. Namun, harga perangkat bukan satu-satunya biaya yang harus disiapkan. Pemilik kendaraan juga perlu menghitung biaya tambah daya listrik, instalasi, material, hingga pekerjaan grounding.
Harga wall charger di pasaran cukup beragam. Distributor PT Tri Energi Berkarya (TEB), misalnya, menawarkan ABB Obsidian 7 kW seharga Rp8 juta. Harga tersebut sudah mencakup jasa instalasi dan material bundling sepanjang 5 meter.
Jika membutuhkan paket yang lebih lengkap, termasuk kWh meter dan grounding tanam, total biayanya dapat mencapai sekitar Rp15 juta. TEB juga menawarkan wall charger merek Stella dengan harga sekitar Rp7,3 juta.
Dari agen pemegang merek, Wuling Motors menawarkan wall charger mulai Rp6,8 juta untuk perangkat saja. Sementara paket lengkap dengan instalasi dibanderol sekitar Rp14 juta.
Adapun wall charger resmi BYD berada di kisaran Rp8,5 juta. Harga tersebut belum mencakup biaya pemasangan dan penyesuaian kelistrikan rumah.
Biaya berikutnya yang tak kalah penting adalah penambahan daya. Wall charger 7 kW membutuhkan kapasitas listrik rumah yang memadai. Idealnya, rumah memiliki daya sekitar 7.700 VA.
Jika daya rumah masih 2.200 VA atau 3.500 VA, pemilik perlu melakukan tambah daya. Biayanya bergantung pada ketentuan PLN dan program yang sedang berlaku. Untuk daya 7.700 VA, biayanya dapat mencapai sekitar Rp3,7 juta setelah memperhitungkan diskon promo.
Instalasi juga bisa mengerek biaya secara signifikan. Pekerjaan ini mencakup penarikan kabel dari panel utama ke lokasi charger, pemasangan MCB khusus, grounding, hingga pekerjaan sipil jika kabel harus ditanam.
Kepala Hubungan Masyarakat dan Pemerintah BYD Indonesia Luther Pandjaitan mengatakan biaya pemasangan sangat bergantung pada kondisi masing-masing rumah.
“Misalnya untuk kabel tanam, perlu pembongkaran atau galian. Itu semua masuk dalam komponen pembentuk harga,” ujar Luther.
Karena itu, biaya instalasi dapat berkisar Rp3 juta hingga lebih dari Rp10 juta, tergantung tingkat kerumitan pekerjaan dan panjang kabel yang dibutuhkan.
Jika seluruh komponen dihitung, pemasangan wall charger 7 kW satu fase diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp12 juta-Rp16 juta. Sementara sistem 11 kW tiga fase membutuhkan biaya lebih besar, sekitar Rp27 juta-Rp47 juta, karena kebutuhan peningkatan daya dan infrastrukturnya lebih kompleks.
Pemilik mobil listrik sebenarnya bisa menekan biaya tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan program atau promo tambah daya PLN ketika tersedia. Produsen mobil juga terkadang memberikan wall charger sebagai bagian dari paket pembelian kendaraan, sehingga konsumen hanya perlu menanggung biaya instalasi.
Untuk penggunaan harian, charger 7 kW menjadi salah satu pilihan yang relatif rasional karena sesuai dengan kebutuhan pengisian rumah tangga dan dapat menggunakan sistem satu fase yang umum ditemukan di perumahan Indonesia.
Pemilik kendaraan juga disarankan berkonsultasi dengan dealer resmi sebelum memasang charger. Selain memastikan spesifikasi perangkat sesuai dengan mobil, penggunaan perangkat resmi membantu menjaga aspek garansi dan keamanan.
Yang paling penting, wall charger tidak seharusnya dipasang sembarangan. Jalur pengisian sebaiknya ditarik langsung dari panel utama dengan pengaman khusus, bukan menggunakan stop kontak biasa atau kabel ekstensi. Sistem grounding yang memadai juga wajib diperhatikan untuk mengurangi risiko gangguan dan memastikan pengisian baterai berlangsung aman.
Dengan demikian, calon pemilik mobil listrik sebaiknya tidak hanya menghitung harga mobil dan wall charger. Biaya kelistrikan serta instalasi rumah bisa menambah belanja hingga puluhan juta rupiah, terutama jika membutuhkan peningkatan daya dan pekerjaan infrastruktur yang kompleks.
