Iran Serang Pusat Data AI AS di Timur Tengah, Ini Alasannya

Lakeybanget.com – Pusat data kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di Timur Tengah dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Infrastruktur digital tersebut dinilai memiliki nilai strategis karena menopang layanan AI, komputasi awan, hingga operasi militer dan intelijen.

Mengutip CNN, serangan terhadap pusat data AI menandai eskalasi baru. Jika sebelumnya fasilitas semacam ini lebih sering menjadi target serangan siber, kini ancamannya meluas menjadi serangan fisik yang menyasar infrastruktur penting.

Laporan itu menyebut perkembangan tersebut menjadi perhatian serius Washington yang memandang AI sebagai sektor strategis bagi keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi. Sejumlah perusahaan teknologi AS juga telah menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data di berbagai negara, termasuk kawasan Timur Tengah.

Iran dan Amerika Serikat disebut saling menyerang infrastruktur pusat data AI. Salah satu insiden terbaru terjadi ketika fasilitas Amazon Web Services (AWS) di Bahrain dilaporkan diserang pada akhir Juli 2026.

Amazon tidak memberikan komentar terkait insiden tersebut. Namun, dasbor layanan AWS sempat menunjukkan gangguan di wilayah Bahrain setelah serangan, sementara citra satelit yang dikutip CNN memperlihatkan kerusakan pada fasilitas tersebut.

Sejak awal konflik, Iran menyatakan pusat data AI merupakan target militer. Menurut laporan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis daftar 29 target teknologi di kawasan, termasuk fasilitas yang terkait dengan Amazon, Google, Microsoft, Nvidia, dan Palantir.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui Telegram usai serangan pada 21 Juli, Teheran mengklaim kembali menyerang fasilitas Amazon karena perusahaan itu disebut menyediakan layanan komputasi awan untuk kepentingan intelijen militer Amerika Serikat.

Amazon diketahui memiliki sejumlah kontrak dengan pemerintah AS, termasuk sebagai bagian dari proyek Joint Warfighting Cloud Capability senilai sekitar US$9 miliar bersama Google, Microsoft, dan Oracle.

Kawasan Teluk sendiri menjadi lokasi strategis dalam persaingan pengembangan AI global. Selain mendukung kepentingan militer dan industri teknologi AS, negara-negara di kawasan itu juga tengah membangun ekosistem AI berskala besar.

Arab Saudi, misalnya, mengalokasikan sebagian dana kekayaan negaranya untuk investasi AI. Sementara Uni Emirat Arab menjalin kerja sama dengan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membangun proyek pusat data AI Stargate senilai US$500 miliar yang melibatkan OpenAI, Oracle, Nvidia, dan Cisco. Proyek tersebut disebut sebagai salah satu investasi infrastruktur AI terbesar di luar Amerika Serikat.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *