Lakeybanget.com – FIFA bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) resmi menerapkan sejumlah perubahan aturan untuk Piala Dunia 2026. Regulasi baru tersebut ditujukan untuk meningkatkan sportivitas pertandingan sekaligus menutup celah taktik yang dinilai memberikan keuntungan tidak adil bagi tim peserta.
Dua perubahan utama yang menjadi perhatian adalah larangan memanfaatkan cedera kiper sebagai sarana jeda taktis serta perluasan kewenangan Video Assistant Referee (VAR) dalam meninjau pelanggaran yang terjadi sebelum bola dimainkan pada situasi bola mati.
Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, mengatakan aturan baru tersebut telah disampaikan kepada para pelatih dari 48 negara peserta melalui lokakarya khusus yang diselenggarakan FIFA menjelang turnamen.
Menurut Collina, dalam beberapa tahun terakhir muncul tren tim memanfaatkan momen saat penjaga gawang mendapatkan perawatan untuk menggelar diskusi taktis dengan pelatih di area teknis. Praktik tersebut dinilai mengganggu ritme pertandingan dan menciptakan keuntungan yang tidak semestinya.
“Mereka tidak akan diizinkan pergi ke bangku cadangan ketika seorang penjaga gawang tergeletak di lapangan karena cedera,” kata Collina, Senin (1/6/2026).
Dalam aturan baru, pemain dari kedua tim diwajibkan tetap berada di lapangan atau berkumpul di lingkaran tengah ketika kiper sedang mendapatkan penanganan medis. Mereka tidak diperkenankan mendekati pelatih untuk menerima instruksi tambahan selama pertandingan dihentikan.
FIFA menegaskan kebijakan ini bukan untuk membatasi hak pemain yang mengalami cedera, melainkan mencegah penyalahgunaan situasi yang dapat dimanfaatkan sebagai waktu istirahat atau rapat taktis dadakan.
“Penjaga gawang berhak mengalami cedera, tetapi pemain lain tidak berhak meninggalkan lapangan untuk beristirahat dan menerima arahan dari pelatih,” ujar Collina.
Selain aturan terkait cedera kiper, FIFA juga memperluas fungsi VAR untuk memantau pelanggaran yang terjadi sebelum bola dimainkan dalam situasi tendangan sudut, tendangan bebas, maupun bola mati lainnya.
Langkah ini diambil menyusul banyaknya insiden kontroversial yang melibatkan aksi dorongan, tarikan, blok, maupun gangguan terhadap pemain bertahan dan penjaga gawang sebelum bola dikirim ke area penalti.
Menurut Collina, sejumlah gol dalam beberapa tahun terakhir tercipta melalui proses yang seharusnya dianggap sebagai pelanggaran, namun luput dari pengamatan perangkat pertandingan.
“Kami yakin gol seperti itu tidak bisa dibenarkan. Itu benar-benar tidak adil,” tegasnya.
Melalui regulasi baru tersebut, VAR dapat merekomendasikan peninjauan ulang apabila ditemukan pelanggaran yang jelas sebelum bola dimainkan dan pelanggaran itu berdampak langsung terhadap terciptanya gol, keputusan penalti, maupun sanksi disiplin lainnya.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran, wasit berwenang membatalkan gol yang telah tercipta serta mengambil keputusan sesuai Laws of the Game yang berlaku.
Perubahan aturan ini menjadi bagian dari upaya FIFA menjaga integritas kompetisi pada Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Turnamen mendatang juga akan menjadi edisi terbesar dalam sejarah dengan keikutsertaan 48 negara peserta. Karena itu, FIFA ingin memastikan setiap pertandingan berlangsung secara adil, kompetitif, dan minim kontroversi.
Dengan pengawasan yang lebih ketat terhadap praktik jeda taktis serta perluasan peran VAR dalam mengawasi pelanggaran sebelum bola mati dieksekusi, FIFA berharap hasil pertandingan benar-benar ditentukan oleh kualitas permainan di lapangan, bukan oleh celah aturan yang dimanfaatkan untuk keuntungan taktis.
