Connect with us

Hi, what are you looking for?

Teknologi

Bos Microsoft: AI butuh Kendali Manusia Agar Tak Jadi Senjata

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang diciptakan oleh manusia untuk membantu dalam berbagai tugas.

Namun, seperti teknologi lainnya, kecerdasan buatan juga memiliki potensi untuk digunakan sebagai alat atau senjata.

Hal ini diungkapkan oleh Brad Smith, presiden dan wakil ketua Microsoft, dalam sebuah wawancara dengan CNBC. Ia menjelaskan pentingnya menjaga kendali manusia atas AI.

“Saya pikir setiap teknologi yang pernah diciptakan memiliki potensi untuk menjadi alat dan senjata,” kata Smith, Senin (28/8/2023).

Ia manambahkan, semua pihak harus memastikan bahwa AI tetap berada di bawah kendali manusia. Apakah itu pemerintah, militer, atau organisasi mana pun.

“Orang yang berpikir untuk menggunakan AI untuk otomatisasi, katakanlah, infrastruktur penting, kita harus memastikan bahwa kita mempunyai manusia yang memegang kendali, yang dapat memperlambat atau mematikannya,” sambungnya.

Beberapa pemimpin teknologi global telah mengingatkan tentang risiko kecerdasan buatan. Chatbot AI seperti ChatGPT, yang bisa menghasilkan teks mirip manusia, telah memicu perhatian terhadap potensi dampaknya.

Namun, Smith menegaskan bahwa AI seharusnya tidak membuat manusia berhenti berpikir, melainkan membantu mereka berpikir lebih cerdas dan cepat.

“Ini adalah alat yang dapat membantu orang berpikir lebih cerdas dan lebih cepat. Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan orang adalah berpikir bahwa ini adalah alat yang akan membuat orang berhenti berpikir,” kata Brad Smith.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ketua dan CEO IBM, Arvind Krishna, juga menggarisbawahi bahwa meskipun AI mungkin memengaruhi pekerjaan tertentu, teknologi ini dapat membantu pekerjaan manusia dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, pertumbuhan eksplosif AI membuat para pekerja khawatir bahwa pekerjaan mereka dapat digantikan oleh teknologi tersebut.

Laporan Goldman Sachs pada bulan Maret mengatakan bahwa AI generatif dapat berdampak pada 300 juta pekerjaan di seluruh dunia.

Antara 25% hingga 50% dari beban kerja dalam pekerjaan-pekerjaan yang terdampak dapat digantikan, kata bank investasi tersebut, seraya menambahkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik cenderung tidak terpengaruh secara signifikan.

Arvind Krishna mengatakan bahwa AI akan pertama kali berpengaruh pada pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pekerja kantor, tapi sebenarnya AI bisa membantu para pekerja daripada menggantikannya.

Krishna menjelaskan bahwa AI tidak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi bertindak sebagai tambahan.

Lebih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan, terutama jika sebagian besar pekerjaan tersebut tidak melibatkan manusia, maka kita bisa menghasilkan lebih banyak nilai ekonomi.

“Kita semua seharusnya merasa optimis tentang perkembangan ini,” demikian kata Khrisna.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Dinda Tri
Written By

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Info lainnya

Hiburan

Grup band rock legendaris, God Bless, dijadwalkan bakal menggelar konser di Istora Senayan, Jakarta Pusat pada 10 November 2023. Konser spesial ini mengusung tema...

Hiburan

Pedangdut Happy Asmara baru-baru ini mengucapkan terima kasih ke Thariq Halilintar. Hal ini diketahui dari unggahan Instagramnya. Rupanya, ia sempat tak bisa mengakses akun...

Olahraga

Pemerhati sepak bola Mohammad Kusnaeni mengatakan Timnas Indonesia U-24 tembus perempat final menjadi target realistis di ajang Asian Games 2022 (2023. Kusnaeni berpendapat, bicara...

Lifestyle

LAKEYBANGET.COM – Meski telah usai, Jember Fashion Carnaval 2023 masih menyisakan jejak kemeriahan. Bagaimana tidak? Ajang tahunan ini dimeriahkan bintang-bintang tanah air dan mampu menyedot...