Empat Film Indonesia Tembus BIFF 2026

Lakeybanget.com – Empat film Indonesia masuk dalam rangkaian program resmi Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 yang digelar pada 6–15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan. Tiga film bersaing di program Competition, sementara satu film pendek tampil dalam Wide Angle – Asian Short Film Competition.

Tiga film yang masuk Competition ialah IBUKU karya Eddie Cahyono, The Sea Speaks His Name (Laut Bercerita) karya Yosep Anggi Noen, dan Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi) karya Kamila Andini. Sementara itu, film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta berkompetisi di kategori Wide Angle – Asian Short Film Competition.

Dalam daftar seleksi resminya, BIFF menyebut Competition 2026 diikuti 14 film dari sejumlah negara Asia. Program ini menyoroti perkembangan sinema Asia sekaligus eksplorasi terhadap kemungkinan bahasa sinematik baru.

IBUKU, produksi bersama Indonesia-Jepang, menjadi salah satu wakil Indonesia di Competition. Film berdurasi 96 menit ini mengikuti Sumiati, seorang janda yang berusaha menghadapi tragedi yang menimpa putrinya setelah sang anak bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri.

Menurut catatan program BIFF, film garapan Eddie Cahyono tersebut kembali menghadirkan kisah keluarga yang berakar pada kehidupan perempuan di Yogyakarta. Ceritanya bersinggungan dengan tekanan sosial, patriarki, dan persoalan ekonomi yang dihadapi perempuan.

Film berikutnya, The Sea Speaks His Name karya Yosep Anggi Noen, mengadaptasi novel laris Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Berdurasi 133 menit, film ini berlatar Indonesia pada 1991 dan mengikuti Laut, mahasiswa yang terlibat dalam gerakan mahasiswa sebelum mengalami penangkapan dan penghilangan paksa.

BIFF mencatat film tersebut sebagai karya yang mengangkat tragedi korban penghilangan paksa pada dekade 1990-an serta trauma yang diwariskan kepada keluarga dan para penyintas. Film ini juga dijadwalkan menjalani world premiere di BIFF 2026.

Sementara itu, Four Seasons in Java karya Kamila Andini merupakan produksi bersama Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Film berdurasi 137 menit ini berkisah tentang Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun. Kepulangannya berhadapan dengan penolakan masyarakat dan masa lalu yang belum selesai.

BIFF menyebut film tersebut sebagai karya kelima Kamila Andini. Film ini mengeksplorasi persoalan komunitas, kekerasan, prasangka, dan upaya menghadapi masa lalu. Dalam informasi resmi festival, Four Seasons in Java juga tercatat sebagai Toronto Centrepiece.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *