Empati Jadi Senjata Aktor Hadapi Gempuran AI

Lakeybanget.com – Kemampuan berempati dan beradaptasi dinilai menjadi modal penting bagi aktor manusia untuk menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kian masuk ke industri perfilman.

Aktor Morgan Oey menyebut empati sebagai salah satu “senjata” utama seorang aktor dalam menghidupkan karakter. Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi pembeda di tengah potensi AI menggantikan peran aktor dan aktris manusia dalam produksi film.

“Tapi kayaknya, I mean like, kalau misalnya dari sisi keaktoran mungkin kan salah satu tools atau salah satu senjata kita kan empati ya. Mungkin itu sih yang bisa enggak ya mereka buat? I don’t know,” kata Morgan di Jakarta dalam media junket Festival Film Indonesia 2026, Jumat.

Senada dengan Morgan, aktor Ario Bayu menilai empati merupakan bagian penting dari keaktoran. Namun, dia mempertanyakan sejauh mana AI mampu memahami dan menerapkan empati dalam pengambilan keputusan.

“Itu betul ya, empati. Tapi ada juga namanya sistem utiliter. Terkadang kita harus, maaf ya, tapi ini biasanya di alam—itu harus memusnahkan satu untuk menyelamatkan 1.000. Jadi kadang-kadang apakah AI itu akan lebih humanis? Oh, I don’t know,” ujar Ario.

Sebagai kreator, Ario mengatakan dirinya masih ingin menghadirkan manusia dalam cerita dan karya yang dibuatnya.

“Aku pingin ada manusia yang memainkan cita-citaku ya. Dan enggak tahu sih ke depan. Tapi kalau benar kata Morgan juga ya empati, ‘can they empathize?’” tuturnya.

Meski demikian, Ario melihat perkembangan AI sebagai bagian dari evolusi teknologi yang sulit dihindari. Menurut dia, masifnya investasi global terhadap ekosistem AI di berbagai bidang membuat teknologi tersebut semakin sulit untuk ditolak.

“Jadi agak sulit kalau misalnya kita seperti aku seniman nih, ‘enggak boleh AI, aku enggak suka’… ini agak sulit untuk kita melawan karena the globe,” imbuhnya.

Ario menilai perkembangan teknologi akan terus bergerak maju. Karena itu, menurut dia, manusia perlu beradaptasi sekaligus mencari keseimbangan dalam penggunaan AI, termasuk di industri film.

Sementara itu, aktris Nirina Zubir melihat perkembangan AI sebagai sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Ia menyoroti kemampuan teknologi tersebut yang berkembang pesat, termasuk dalam menghasilkan visual dengan detail yang semakin realistis.

Namun, Nirina menilai aktor manusia masih memiliki keunggulan, terutama dalam produksi film berdurasi panjang. Menurut dia, penggunaan AI secara penuh belum tentu membuat produksi film menjadi lebih murah.

“Sebenarnya masih fifty-fifty banget sih, tidak bisa dipungkiri, tetapi juga sejauh ini masih berat. Karena masih kayak ‘ah kita kan punya source-nya gitu’, dan kalau buat film 90 menit kayaknya lebih mahal deh jadinya, udahlah asli aja gimana,” kata Nirina.

Ia menambahkan, perkembangan industri dan teknologi tetap akan menentukan arah penggunaan AI di masa mendatang.

“Tapi kan kembali lagi produksi segala macam, kita tidak pernah tahu. Dan ya manusia yang bisa survive adalah manusia yang bisa beradaptasi,” ujarnya.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *