Lakeybanget.com – Klub Jerman Union Berlin resmi menunjuk Marie-Louise Eta sebagai pelatih kepala interim hingga akhir musim. Keputusan ini mencatat sejarah baru, menjadikan Eta sebagai pelatih kepala perempuan pertama di Bundesliga sekaligus satu-satunya perempuan yang memimpin tim di liga top Eropa saat ini.
Penunjukan tersebut dilakukan menyusul pemecatan pelatih sebelumnya, Steffen Baumgart, setelah kekalahan 1-3 dari tim juru kunci Heidenheim. Hasil buruk itu menjadi puncak dari rentetan performa negatif yang dialami Union Berlin.
Eta, yang kini berusia 34 tahun, sebelumnya telah mencetak sejarah sebagai asisten pelatih perempuan pertama di Bundesliga. Kini, ia mendapat tanggung jawab lebih besar untuk menangani tim utama yang tengah berada dalam tekanan.
Sejak jeda musim dingin, performa Union Berlin menurun drastis. Tim hanya meraih dua kemenangan sejak periode Natal, membuat posisi mereka di klasemen semakin terancam. Saat ini, Union Berlin hanya unggul tujuh poin dari zona play-off degradasi.
Direktur olahraga klub, Horst Heldt, mengakui situasi tim sedang tidak ideal dan membutuhkan perubahan segera.
“Kami menjalani paruh kedua musim yang benar-benar mengecewakan. Situasi kami masih berbahaya dan kami sangat membutuhkan poin untuk bertahan di liga,” ujarnya.
Manajemen berharap kehadiran Eta dapat memberikan dampak instan, terutama dalam memperbaiki mental dan performa tim di sisa musim.
Eta bukan sosok asing di dunia sepak bola. Sebagai mantan pemain, ia memiliki rekam jejak gemilang bersama Turbine Potsdam, termasuk meraih gelar UEFA Women’s Champions League 2010 serta tiga trofi Bundesliga putri.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan utama Union Berlin mempercayakan posisi strategis ini kepadanya.
Menariknya, sebelum ditunjuk sebagai pelatih interim tim putra, Eta sebenarnya telah diproyeksikan untuk menangani tim putri Union Berlin mulai musim depan. Namun, kondisi darurat membuatnya kini mengambil peran penting di tim utama lebih cepat dari rencana.
Langkah Union Berlin ini tidak hanya penting bagi klub, tetapi juga menjadi tonggak bersejarah dalam perkembangan peran perempuan di level tertinggi sepak bola putra Eropa.
